Ini jalur penjualan paling populer di Indonesia, dan sekaligus yang paling sulit diukur.
Iklan tayang, orang mengetuk tombolnya, WhatsApp terbuka, lalu semuanya gelap. Meta bisa memberi tahu berapa percakapan yang dimulai. Ia tidak bisa memberi tahu berapa yang jadi order, karena isi chat memang bukan wilayahnya.
Banyak orang menyelesaikan kebuntuan ini dengan cara yang buruk: berhenti mengukur sama sekali, lalu menilai iklan dari perasaan ramai atau sepi.
Sampai di mana batas yang bisa diukur?
| Tahap | Bisa diukur? | Oleh siapa |
|---|---|---|
| Iklan dilihat | Ya | Meta |
| Tombol chat diketuk | Ya | Meta, dan tautan bertandamu |
| WhatsApp terbuka | Ya | Meta |
| Pesan pertama terkirim | Ya | Meta |
| Isi percakapan | Tidak | Tidak ada, kecuali kamu baca sendiri |
| Order jadi | Tidak otomatis | Kamu, lewat catatan sendiri |
Dua baris terakhir yang membuat semua alat analisa berhenti. Yang membedakan pengukuran yang jujur dan yang mengarang adalah bagaimana dua baris itu diperlakukan.
Langkah pertama: pastikan klik menuju WhatsApp bisa dibedakan
Kalau semua iklanmu mengarah ke satu tautan WhatsApp yang sama, chat yang masuk tidak akan pernah bisa dipulangkan ke iklan asalnya.
Yang membuatnya bisa dibaca:
- Tautan yang membawa penanda berbeda per iklan. Kode singkat yang berbeda untuk tiap iklan atau tiap produk.
- Pesan pembuka yang sudah terisi. Selain memudahkan pembeli memulai, ia bisa memuat kode itu, sehingga kamu tahu asalnya begitu chat masuk.
- Halaman perantara sebelum WhatsApp, kalau kamu ingin menyaring ketukan iseng dan mencatat kliknya lebih rapi. Cara memasangnya ada di panduan memasang skrip halaman.
Langkah ketiga punya manfaat tambahan yang sering diremehkan: ia memisahkan orang yang benar-benar berniat dari yang menekan tombol karena penasaran. Angka yang tersaring lebih layak dipakai mengambil keputusan.
Langkah kedua: catat berapa chat yang jadi order
Ini pekerjaan manual, dan tidak ada jalan pintasnya. Kabar baiknya, kamu tidak perlu mencatat selamanya.
Ambil satu periode, misalnya dua minggu. Catat dua angka saja:
- Berapa chat masuk yang datang dari iklan.
- Berapa di antaranya yang berakhir dengan pembayaran.
Bagi yang kedua dengan yang pertama, dan kamu punya rasio closing. Misalnya dua dari sepuluh, berarti 20 persen.
Rasio itu jarang berubah drastis dari minggu ke minggu selama produk, harga, dan cara membalasmu tetap. Karena itu kamu cukup mengukurnya beberapa kali, lalu memakainya sebagai pengali.
Langkah ketiga: ubah biaya per chat jadi biaya per order
Di sinilah angka yang tadinya tidak berarti jadi bisa dipakai memutuskan.
| Angka | Contoh |
|---|---|
| Biaya per chat dari laporan iklan | Rp8.000 |
| Rasio chat jadi order | 20% |
| Perkiraan biaya per order | Rp40.000 |
| Untung bersih per order | Rp55.000 |
| Kesimpulan | Masih untung |
Tanpa langkah ini, biaya per chat Rp8 ribu cuma angka yang terdengar murah. Dengan langkah ini, ia jadi vonis yang bisa dibandingkan dengan untung bersihmu, seperti yang kami jelaskan di CPA wajar berapa.
Kenapa jangan mendaftarkan nomor ke sistem resmi hanya demi pencatatan?
Ada jalur teknis yang memungkinkan chat tercatat otomatis, yaitu mendaftarkan nomormu ke sistem resmi WhatsApp untuk bisnis. Ia memang menyelesaikan sebagian masalah pencatatan.
Ongkosnya jarang disebut: nomor yang didaftarkan tidak bisa lagi dipakai di aplikasi WhatsApp biasa di ponselmu. Buat penjual yang membalas pelanggan sambil mengurus toko, kehilangan itu hampir selalu lebih mahal daripada manfaat pencatatannya.
Karena itu urutan yang kami sarankan: ukur sampai batas yang aman, lalu tutup sisanya dengan rasio closing yang kamu hitung sendiri. Batasnya kami sebut terus terang, bukan disembunyikan di balik janji pelacakan penuh.
Kebocoran apa yang paling sering terjadi di jalur ini?
Sebelum sibuk mengukur, pastikan yang diukur bukan jalur yang sudah bocor:
- Pesan pembuka kosong, sehingga orang harus mengarang kalimat pertamanya sendiri.
- Balasan lambat, saat calon pembeli sudah membeli di tempat lain.
- Nomor salah atau profil bisnis kosong, sehingga orang ragu mengetik.
- Iklan menjanjikan sesuatu yang tidak disebut lagi di layar chat.
Empat hal itu membuat biaya per order melonjak tanpa satu pun angka di Ads Manager terlihat jelek. Kami menulisnya lengkap di iklan WhatsApp banyak klik tapi chat kosong.
Cara Meta menghitung percakapan yang dimulai ada di Business Help Center. Di PahamAds, jalur ini kami perlakukan apa adanya: klik menuju WhatsApp dihitung dan dibedakan per iklan, rasio closing ditanyakan sekali kepada pemiliknya, dan sesudah itu biaya per chat diterjemahkan jadi biaya per order tanpa mengaku bisa membaca isi percakapan.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Bisakah tahu order mana yang datang dari iklan WhatsApp?
Tidak otomatis, dan itu batas yang jujur. Meta menghitung sampai percakapan dimulai, sesudah itu chat berada di aplikasi yang tidak dilihat sistem iklan. Yang bisa dilakukan: memakai tautan bertanda supaya kamu tahu chat itu datang dari iklan mana, lalu mencatat sendiri berapa yang jadi order.
Apa gunanya rasio closing chat?
Ia mengubah angka yang tidak bisa dinilai jadi angka yang bisa. Kalau dari sepuluh chat biasanya dua jadi order, biaya per chat Rp8 ribu berarti biaya per order sekitar Rp40 ribu. Angka itu baru bisa dibandingkan dengan untung bersihmu untuk menentukan iklannya untung atau rugi.
Apakah perlu mendaftarkan nomor ke sistem resmi WhatsApp?
Untuk kebanyakan penjual kecil, tidak sepadan. Mendaftarkan nomor ke sistem resmi membuat nomor itu tidak bisa lagi dipakai di aplikasi WhatsApp biasa di ponsel, dan kehilangan tempat membalas pelanggan jauh lebih mahal daripada manfaat pencatatannya.
Bagaimana cara tahu chat yang masuk berasal dari iklan mana?
Pakai tautan yang membawa penanda, misalnya kode unik yang berbeda untuk tiap iklan, sehingga pesan pembuka yang terisi otomatis memuat kode itu. Dengan begitu kamu bisa membaca dari chat-nya sendiri iklan mana yang membawanya, tanpa perlu bertanya ke pembeli.
