Ini keluhan yang paling sering muncul, dan biasanya diikuti keputusan yang salah.
Iklan sudah jalan seminggu. Uangnya keluar terus. Penjualan nol, atau ada satu dua tapi jauh dari cukup. Lalu yang dilakukan kebanyakan orang: ganti gambar, ganti caption, ganti audiens, naikkan budget, atau matikan semuanya lalu mulai dari awal.
Masalahnya, semua tindakan itu mengobati penyakit yang berbeda. Kalau kamu memilihnya dengan menebak, kemungkinan besar kamu sedang memperbaiki bagian yang sebenarnya tidak rusak, sementara yang bocor terus membakar uang.
Iklan yang tidak menghasilkan selalu bisa dilacak ke satu dari empat lapisan. Telusuri berurutan, dan penyebabnya akan ketahuan tanpa menebak.
Lapisan 1: Iklanmu sampai ke orang atau tidak
Buka Ads Manager, lihat kolom jangkauan dan impresi.
Kalau angkanya kecil sekali, misalnya beberapa ratus impresi setelah beberapa hari dengan budget yang tidak kecil, masalahmu belum sampai ke soal jualan. Iklanmu memang belum benar-benar tayang.
Penyebab yang paling sering:
Iklan atau akunnya kena pembatasan. Cek statusnya. Kalau tertulis ditolak atau dalam peninjauan, tidak ada yang perlu diperbaiki di kreatif sampai statusnya beres.
Audiensnya kekecilan. Kamu menumpuk terlalu banyak syarat: kota kecil, umur sempit, ditambah beberapa minat sekaligus. Kolamnya jadi terlalu dangkal untuk dibelanjakan.
Budget hariannya terlalu kecil dibanding biaya lelangnya. Kalau CPM di kategorimu tinggi, budget Rp20.000 sehari cuma cukup membeli sedikit sekali tayangan. Sistemnya tidak punya ruang untuk mencari siapa pun.
Batas lelangmu terlalu ketat. Kalau adset-mu memakai Cost Cap atau Bid Cap, Meta cuma ikut lelang yang bisa dimenangkan di bawah angka itu. Begitu harga pasar naik melewati batasmu, dia berhenti menawar. Cirinya khas dan sering salah dibaca: budget-mu utuh, iklannya aktif, tapi belanjanya jauh di bawah angka yang kamu tetapkan. Kelihatan hemat, padahal itu jangkauan yang hilang.
Obatnya di lapisan ini bukan kreatif. Longgarkan penargetan, longgarkan batasnya sedikit demi sedikit kalau memang memakai Cost Cap atau Bid Cap, atau naikkan budget ke angka yang masuk akal untuk kategorimu. Kalau iklanmu berbentuk kampanye Advantage+, penargetannya bukan lagi milikmu, jadi yang tersisa cuma dua tuas terakhir itu.
Lapisan 2: Sampai ke orang, tapi tidak diklik
Kalau impresinya sudah ribuan tapi kliknya sedikit, masalahmu ada di sini. Ukurannya CTR, yaitu berapa persen orang yang melihat lalu mengeklik.
Patokan kasarnya, CTR di sekitar 2 persen ke atas itu sehat untuk kebanyakan kategori. Di bawah 1 persen artinya iklanmu lewat begitu saja di mata orang.
Tapi jangan berhenti di angka umum itu. Yang lebih berguna: bandingkan dengan iklanmu sendiri yang dulu. Kalau CTR-mu biasanya 2,5 persen lalu sekarang 0,8 persen, itu sinyal yang jauh lebih kuat daripada patokan industri mana pun. Satu hal yang wajib dipastikan sebelum menyimpulkan apa pun dari angka ini: Ads Manager punya dua kolom CTR yang berbeda jauh isinya, dan bedanya diurai di CTR iklan Facebook yang bagus itu berapa.
Yang biasanya salah di lapisan ini:
Tiga detik pertama tidak menahan orang. Di feed, orang menggulir cepat. Gambar atau video yang butuh waktu untuk dimengerti akan kalah.
Iklannya berbicara soal produk, bukan soal masalah pembacanya. "Kaos katun premium 30s" itu deskripsi. "Kaos yang nggak melar setelah dicuci sebulan" itu masalah yang orang kenali.
Audiensnya salah orang. Kreatifnya bagus, tapi ditunjukkan ke orang yang memang tidak sedang butuh.
Frekuensinya sudah tinggi. Kalau satu orang sudah melihat iklan yang sama lima kali, CTR-nya pasti turun. Ini bukan iklannya jelek, ini audiensnya kehabisan orang baru. Obatnya kreatif baru atau audiens yang lebih luas, bukan naikkan budget.
Lapisan 3: Diklik, tapi berhenti di halaman tujuan
Ini lapisan yang paling sering luput, dan paling mahal.
Kalau kliknya sudah ratusan tapi konversinya nol, iklanmu sebenarnya sudah bekerja. Ia berhasil membuat orang tertarik dan menekan. Yang bocor ada setelah itu. Mengganti gambar di titik ini adalah kesalahan klasik: kamu membuang iklan yang berhasil dan membiarkan bocornya utuh.
Yang perlu kamu cek, urut dari yang paling sering:
Halamannya lambat. Kalau butuh lebih dari tiga detik untuk terbuka di sinyal seluler biasa, sebagian besar orang pergi sebelum melihat apa pun. Buka sendiri halamanmu pakai data seluler, bukan wifi kantor.
Isi halaman tidak nyambung dengan iklannya. Iklanmu menjanjikan diskon 50 persen, halamannya menampilkan katalog umum tanpa jejak diskon itu. Orang merasa tertipu, lalu keluar.
Harganya mengejutkan. Harga di iklan tidak menyebut ongkir, di halaman totalnya melonjak. Ini penyebab keranjang ditinggalkan nomor satu.
Tombolnya tidak jelas atau tidak jalan di HP. Coba sendiri sampai selesai, dari HP, seperti pembeli sungguhan.
Alat ukurnya rusak. Ini yang paling licik. Penjualan sebenarnya terjadi, tapi pixel tidak mengirim datanya, jadi Ads Manager melaporkan nol. Kamu lalu mematikan iklan yang sebenarnya menguntungkan. Cara mengeceknya gampang: bandingkan jumlah pesanan sungguhan di pembukuanmu dengan yang tercatat di Ads Manager pada periode yang sama. Kalau di pembukuan ada tapi di Ads Manager nol, masalahmu alat ukur, bukan iklan. Lihat cara pasang Pixel Meta.
Lapisan 4: Sampai halaman, tapi tidak ada alasan kuat untuk membeli
Kalau halamannya cepat, nyambung, dan alat ukurnya sehat, tapi tetap tidak ada yang membeli, masalahnya bukan di iklan sama sekali. Masalahnya di penawaran.
Pertanyaan jujurnya cuma tiga:
Kenapa orang harus beli ini, dan bukan yang di sebelah? Kenapa harus dari kamu, bukan dari toko yang sudah punya ribuan ulasan? Kenapa harus sekarang, bukan nanti?
Kalau ketiganya belum punya jawaban yang kuat, tidak ada budget iklan yang bisa menutupinya. Iklan mempercepat penawaran yang sudah bekerja. Ia tidak memperbaiki penawaran yang lemah, ia cuma membuat lebih banyak orang menolaknya lebih cepat.
Untuk iklan yang jualannya lewat WhatsApp
Kalau tujuan iklanmu chat WhatsApp, lapisan ketiga dan keempat bentuknya berbeda.
Yang tercatat di Ads Manager adalah klik tombol, artinya WhatsApp terbuka dengan draf pesan yang siap kirim. Belum tentu terkirim. Jadi urutan cek yang benar: berapa klik tombol, berapa yang benar-benar jadi chat masuk di HP-mu, lalu berapa chat yang jadi pembeli.
Kalau kliknya banyak tapi chat masuknya sedikit, biasanya masalahnya di draf pesan atau di iklan yang menjanjikan sesuatu yang tidak jelas. Kalau chatnya banyak tapi yang beli sedikit, masalahnya di cara membalas dan di penawaran, bukan di iklan. Bahasan lengkapnya ada di iklan WhatsApp banyak klik tapi chat kosong.
Satu peringatan sebelum kamu memvonis apa pun
Jangan menilai iklan yang datanya masih sedikit.
Kalau target biaya per pembelianmu Rp50.000 dan iklan baru menghabiskan Rp60.000, maka nol penjualan itu belum berarti apa-apa. Itu masih dalam rentang kebetulan yang wajar. Menyimpulkan gagal di titik itu, lalu mematikan dan mengulang dari nol, adalah cara paling efektif membakar uang: kamu membayar biaya belajar berkali-kali tanpa pernah selesai belajar.
Tunggu sampai belanjanya beberapa kali lipat target biaya per hasilmu, baru ambil keputusan. Soal ini dibahas di fase pembelajaran Facebook Ads.
Urutan yang benar, sekali lagi
- Impresi kecil? Perbaiki audiens, budget, atau status iklan. Jangan sentuh kreatif.
- Impresi besar tapi klik sedikit? Perbaiki kreatif dan pesan. Jangan sentuh halaman.
- Klik banyak tapi konversi nol? Perbaiki halaman dan alat ukur. Jangan ganti kreatif yang sudah bekerja.
- Semua sehat tapi tetap tidak beli? Perbaiki penawarannya. Iklan tidak bisa menolongmu di sini.
Kesalahan paling mahal dalam beriklan bukan salah memilih audiens. Kesalahan paling mahal adalah memperbaiki lapisan yang salah, karena selama perbaikan itu dikerjakan, uangnya tetap keluar dan penyebab aslinya tidak tersentuh.
Kalau kamu tidak mau menelusuri ini manual tiap hari
Empat lapisan tadi bisa kamu telusuri sendiri, dan sebaiknya sekali kamu kerjakan supaya paham logikanya. Masalahnya, ini berubah tiap hari dan per iklan. Satu adset bisa bocor di lapisan dua sementara adset sebelahnya bocor di lapisan tiga.
Itu persis yang kami bangun jadi PahamAds. Ia membaca akun Meta Ads-mu tiap hari, menunjuk di lapisan mana uangmu berhenti, sampai ke campaign, adset, dan iklan mana yang menyebabkannya, lalu menulis langkah perbaikannya dalam bahasa manusia. Read-only, iklanmu tidak pernah kami sentuh.
Kenalan dulu lewat apa itu PahamAds, atau langsung ke cara cek iklan Facebook untung atau rugi kalau kamu mau menghitungnya sendiri lebih dulu. Kalau ternyata masalahnya ada di susunan iklannya sejak awal, ulangi dari cara iklan di Facebook untuk pemula.
Kalau kamu mau menelusuri keempat lapisan tadi secara berurutan dan menuliskan temuannya sendiri, urutan lengkapnya ada di cara audit akun Meta Ads sendiri.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Kenapa iklan Facebook saya tidak ada hasil sama sekali?
Karena orang berhenti di salah satu dari empat lapisan: iklanmu tidak sampai ke cukup banyak orang, sampai tapi tidak diklik, diklik tapi halamannya mengecewakan, atau sampai halaman tapi tidak ada alasan kuat untuk membeli. Tiap lapisan punya obat yang berbeda, jadi menebak tanpa menelusuri lapisannya biasanya memperbaiki yang tidak rusak.
Berapa lama iklan Facebook baru boleh dinilai gagal?
Jangan menilai sebelum belanjanya cukup untuk menghasilkan beberapa kali target biaya per hasilmu. Kalau target biaya per pembelianmu Rp50.000 dan iklan baru menghabiskan Rp60.000, satu penjualan atau nol penjualan sama-sama belum berarti apa-apa. Umumnya butuh beberapa hari dan puluhan hasil sebelum angkanya layak dipercaya.
Apakah mengganti gambar iklan akan menyelesaikan masalah?
Hanya kalau masalahnya ada di lapisan pertama atau kedua, yaitu iklanmu tidak menarik perhatian atau tidak diklik. Kalau orang sudah banyak yang mengeklik tapi tidak ada yang beli, mengganti gambar justru membuang iklan yang sebenarnya sudah bekerja, dan masalah aslinya di halaman atau di penawaran tetap utuh.
Bagaimana cara tahu masalahnya di iklan atau di halaman tujuan?
Lihat CTR dan jumlah klik. Kalau kliknya sedikit, masalahnya di iklan. Kalau kliknya banyak tapi konversinya nol, iklannya sudah berhasil membawa orang, jadi yang bocor ada setelah klik: halaman lambat, isinya tidak nyambung dengan iklan, harga mengejutkan, atau alat ukurnya yang rusak sehingga penjualan terjadi tapi tidak tercatat.
